PEMIKIRAN IMAM AL-SHATIBI

Pengembangan hukum Islam, dalam hal ini melalui ijtihad berkaitan erat dengan perubahan-perubahan sosial. Hukum dalam perspektif sosiologi berperan ganda, satu sisi hukum dijadikan sebagai kontrol sosial terhadap perubahan yang berlangsung dalam kehidupan manusia, di sisi yang lain hukum dapat dijadikan sebagai alat rekayasa sosial.[1] Begitu juga hukum Islam, hanya saja sumber nilai yang dijadikan acuan adalah wahyu yang bersifat Ilahiyah.

Pasca meninggalnya Nabi Muhammad Saw sebagai satu-satunya sumber jawaban dari setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat, para ahli hukum Islam dari masa ke masa berusaha merumuskan  metode ijtihad yang tepat untuk dijadikan sebagai landasan berpikir dalam hukum Islam. Hal ini terkait dengan permasalahan-permasalahan yang muncul di masyarakat perlu segera ditemukan jawaban sesuai dengan kondisi zaman tanpa mengabaikan pesan-pesan wahyu sebagai pijakan utama.

Berbicara metode ijtihad hukum Islam tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pembahasan ushul fikih sebagai piranti untuk mengeluarkan hukum dari sumbernya. Adapun ulama yang telah memberikan kontribusi besar perkembangan ushul fikih di antaranya adalah Imam al-Syafi’i dan imam al-Syatibi. Jika Imam al-Syafi’i dikenal sebagai peletak dasar-dasar ilmu ushul fikih, maka imam al-Shatibi adalah pengembangnya. Di tangan Imam al-Shatibi konsep ushul fikih tidak hanya mengacu pada teks nash yang acap kali mengabaikan realitas sosial, namun konsep yang ditawarkannya berusaha mengakomodasi nilai-nilai sosial yang ada.

Dari latar belakang di atas, penulis berusaha untuk memaparkan sejarah pemikiran Imam al-Shatibi, serta segala hal yang terkait dengan setting sosial kehidupan al-Shatibi hingga konsep pemikiran yang dimunculkan oleh al-Shatibi khususnya di bidang ilmu ushul fiqh.

Latar Kehidupan Imam al-Shatibi

Nama al-Shatibi hampir selalu muncul di setiap wacana pembaharuan pemikiran hukum Islam.[1] Dia meninggal 1388 (8 Sha’ban 790 H) di Granada.[2] Nama lengkap Imam al-Shatibi adalah Abu Ishaq Ibrahim Bin Musa Bin Muhammad al-Lakhmi al-Gharnati. Tanggal dan tahun kelahiran serta latar belakang kehidupan keluarganya belum banyak diketahui, menurut hasil penelitian para sejarawan, keluarganya berasal dari kota Shatibah (Jativa), oleh karena itu dia lebih dikenal dengan sebutan al-Shatibi.[3]

Dari tahun wafatnya dapat diperkirakan, walaupun keluarganya berasal dari Shatibah, namun al-Shatibi sendiri tidak lahir di negeri asal keluarganya, sebab kota Shatibah telah jatuh ke tangan penguasa Kristen puluhan tahun sebelum kelahiran al-Shatibi. Kemungkinan besar keluarganya pergi meninggalkan negeri itu dan menetap di Granada. Diperkirakan ia lahir ketika Sultan Yusuf 1 (Sultan Abu al-Hajjaj, 1334-1354 M) memerintah Granada.[4] Menurut Philip K. Hitti, pada masa inilah Sultan Abu Hajjaj mendirikan Universitas Granada, yang kurikulumnya meliputi kajian teologi, ilmu hukum, kedokteran, kimia, filsafat, dan astronomi. Banyak mahasiswa yang berasal dari bangsawan, dan dari luar negeri yang belajar di universitas ini.[5] Sangat dimungkinan al-Shatibi juga termasuk bagian dari ilmuwan yang berkecimpung di dalamnya.

Masa Spanyol Islam

Kekuasaan Islam di Spanyol berlangsung dalam rentang waktu lebih kurang delapan abad (711-1492 M). Masuknya Islam di Spanyol diawali oleh Thariq ibn ziyad yang berusaha menakhlukkan daerah itu dengan mendarat di suatu tempat yang kemudian dikenal dengan Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol di bawah pimpinan Raja Roderik dikalahkan. Dengan demikian, pintu masuk ke Spanyol terbuka luas. Toledo, ibu kota juga ditakhlukkan. Demikian pula kota-kota lain seperti Seville, Malaga, Elvira, dan Cordoba yang kemudian menjadi ibu kota Spanyol Islam.[6]

Delapan abad Islam menguasai Spanyol bukanlah waktu yang sangat singkat. Pasang surut umat Islam Spanyol pun berlangsung. Banyak kemajuan tampak pada masa Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman al-Wasit dan Abdurrahman al-Nasir dengan berdirinya daulah Bani Umayyah. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa, seperti toleransi beragama terhadap penganut Kristen dan Yahudi. Disediakan hakim khusus yang menangani masalah-masalah sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Ketika dinasti-dinasti Islam di Spanyol mengalami kemunduran, di sana masih ada tersisa satu kerajaan yang mampu bertahan yaitu Granada. Kerajaan ini didirikan oleh Muhammad ibn Yusuf ibn Ahmad al-Khazraj al-Ans}ori. Dinamai juga Ibn Ahmar yang dinisbahkan kepada seorang sahabat besar Nabi yang bernama Sa’ad ibn Ubadah.[7]

Kehidupan Keilmuan dan Sosial Politik Masa al-Shatibi

Menurut Lisanuddin al-Khatib sebagaimana dikutib oleh Abu al-Ajfan, bahwa kehidupan politik dalam negeri Granada pada masa al-Shatibi berada dalam keadaan yang tidak stabil. Perpecahan dan pertentangan dalam negeri berlangsung cukup lama. Hal ini memberikan kemudahan kekuatan-kekuatan Kristen untuk melakukan penyerangan. Pada masa ini keutuhan kerajaan Islam sudah mulai goyah, untuk tidak dikatakan sudah mulai musnah. Karena kota-kota dalam wilayah kerajaan Islam ini sudah banyak yang jatuh ke tangan kekauatan Kristen, keadaan ini telah memunculkan dorongan keagamaan kalangan kaum muslimin untuk mempertahankan akidah Islam, berpegang dan melaksanakan syariat dengan melakukan hijrah.[8]

Meskipun kehidupan sosial politik -kegoncangan kekuasaan, bahkan ditambah pula pola hidup mewah dan khurafat di kalangan tertentu- muncul pada al-Shatibi tidaklah berarti terjadi kemunduran bidang ilmu pengetahuan dan pengembangannya. Berdirinya dua buah yayasan ilmu pengetahuan di Granada ketika itu adalah bukti berkembangnya kehidupan ilmiah. Bahkan menurut al-Miqarri bahwa ketika kota-kota berada di bawah kekuasaan Kristen, para ulama dan pengarang terus membangun kehidupan ilmiah.

Ulama-ulama yang muncul di spanyol waktu itu antara lain Ibn Juzai, Ibn Lub, Ibn Fakhar, Ibn Jayyab, dan Ibn ‘A<s}im dalam bidang fikih, Abu Hayyan, Ibn Shaig dan bidang nahwu Ibn Khatib, Zamrak dan Ibn ‘A<s}im dalam bidang kalam dan siyasah, Ibn H}udhail al-H}akim dalam bidang filsafat dan al-Shatibi dalam bidang ushul fikih dan filsafat shariah.

Di masa al-Shatibi, Granada menjadi pusat kegiatan ilmiah dengan berdirinya Universitas Granada. Dimungkinkan Granada pada masa itu dalam batas-batas tertentu dapat disamakan dengan Cordova di masa filosof dan fakih bernama Ibn Rusyd (w. 594 H/1198 H). Menurut Sati’ al-H}usari bahwa suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri pada paroh kedua abad ke-8 H atau abad ke-14 M merupakan masa kemunduran di dunia Islam bagian timur. Dan sebaliknya merupakan masa kebangkitan di dunia Islam belahan barat (Spanyol dan Afrika Utara). Kemajuan dan kebangkitan dimaksud sebagaimana telah dikemukakan di atas bukanlah dalam arti politik dan kekuasaan.

Secara umum, kehidupan politik dan kekuasaan umat Islam pada abad ke-8 H menuju kehancuran, terutama di dunia Islam belahan barat. Menurut Abd al-Muta’al al-Shaidi keadaannya lebih buruk dibandingkan dengan kehidupan politik di dunia Islam belahan timur. Di belahan timur masih terdapat daulah-daulah Islam yang kuat, bahkan secara militer diperhitungkan.

Istilah kebangkitan Islam yang dimaksudkan oleh al-H}usari adalah kemajuan di bidang ilmu pengetahuan termasuk ilmu-ilmu agama. Kemajuan yang dicapai pada abad ke-8 memang diakui kurang sebanding dengan kemajuan yang dicapai oleh ulama-ulama besar seperti para mujtahid mutlak di bidang fikih pada masa keemasan Islam abad ke-2 dan ke-3 H. Namun kemajuan yang dicapai pada abad ke-8 ini tidak kurang pentingnya bahkan layak disebut mengagumkan, karena di tengah kemunduran dan kekacauan politik para ulama besar bermunculan. Sederet ulama dengan pemikiran-pemikiran besar lahir di masa ini, seperti halnya Ibn Taimiyah (w. 661 H), Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), di dunia ilam belahan timur serta Ibn Khaldun (w. 732 H) dan Abu Ishaq al-Shatibi (w. 790 H) di dunia Islam bagian barat. [9]

Pengembaraan Intelektual al-Shatibi

Dalam meniti pengembangan intelektualitasnya, al-Shatibi adalah seorang yang sejak kecil tekun belajar dan mendalami bahasa Arab dan berguru kepada Abu Abdillah Muhammad Ibn Fakhkhar al-Birri (w. 754 H/1353 M), Abu Qasim Muhammad Ibn Ahmad al-Shatibi (w. 760 H/1358 M) dan Abu Ja’far Ahmad Shaqwari. Pengetahuan hadith ia terima dari Abu Qasim ibn Bina dan Shamsuddin al-Tilimsani (w. 781 H/1369 M). Melalui al-Tilimsani, al-Shatibi mempelajari Jami’ al-Shahih  al-Bukhari dan al-Muwatta’ karangan Imam Malik. Ilmu kalam dan filsafat dipelajari dari Abu Ali Manshur al-Mazyali (w.770 H/1369M), ilmu ushul al-fiqh dari Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Miqarri dan Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Sharif al-Tilimsani. Al-Shatibi mendalami pula ilmu falaq, mantiq, debat dan sastra dari Abu Bakar al-Qarashi al-Hashimi, salah seorang sastrawan Spanyol.[10] Dalam bidang teologi dan ilmu kalam al-Shatibi juga berguru kepada abu al-Abbas al-Qabab dan Abu Abdillah al-Hiffar. Salah seorang rekan seangkatannya adalah Ibnu Khaldun (1332-1404 M), yang hijrah ke Granada dari Fez, Maroko pada 1352 M.[11]

Pengembangan dan pendalaman ilmu dilakukan Al-Shatibi tidak hanya dalam bentuk pertemuan langsung dengan guru-gurunya, akan tetapi juga melalui korespodensi dengan para ulama tersohor. Setelah menyerap ilmu-ilmu dari para gurunya, Al-Shatibi berusaha mengembangkannya dengan cara mengajarkan kepada generasi-generasi muda. Tercatat ulama-ulama yang pernah menjadi murid adalah Abu Yahya Ibn Asim dan Abu Bakar al-Qadi dan Abu Abdillah al-Bayani. Abu bakar Ibn Asim pernah menjabat hakim, ia mengarang kitab kompilasi hukum Tuh}fatul Ah}ka>m yang menjadi rujukan para hakim di Granada. Selain tiga murid terkenal di atas, masih banyak murid al-Shatibi di antaranya Abu Abdillah al-Mijari dan Abu Ja’far Ahmad al-Qisar al-Gharnati adalah murid al-Shatibi yang cerdas. Di Depan Abu Ja’far ini al-Shatibi membacakan sebagian masalah-masalah ketika menyusun kitab al-Muwafaqa>t.[12] Di sini menarik untuk dicermati bahwa sebagai ulama besar, al-Shatibi adalah sosok yang terbuka untuk dikritik maupun meminta masukan dalam hal keilmuwan meskipun itu terhadap muridnya sendiri.

Al-Shatibi menulis beberapa buku dalam bidang sastra arab dan ushul fikih. Buku karya imam al-Shatibi yang dapat dilacak sampai saat ini ada enam, yaitu: sharh} jali>l ala> khulas}ah fi ilmi al-Nah}w (tentang bahasa arab), al-Muwafaqa>t fi ushul al-Shari>’ah (tentang uhul fikih), al-I’tis}am (membahas tentang seputar bid’ah hingga perbedaannya dengan istihsan dan maslahah mursalah), al-Ifadat wa al-Inshadat (tentang syair bahasa Arab), ‘unwan al-Ittifa>q fi ilmi al-Istiqa>qdan ushul al-Nah>w  (mengenai bahasa Arab).[13]

Pemikiran al-Shatibi

Meskipun al-Shatibi menguasai berbagai disiplin keilmuan, namun ia lebih dikenal sebagai pakar ilmu ushul fikih yang memiliki analisis dan ketajaman pandangan. Dua buku karya al-Shatibi yakni al-Muwafaqa>t fi ushul al-Shari>’ah dan al-I’tis}a>m merupakan karya monumental dan beredar luas serta dijadikan rujukan di berbagai perguruan tinggi Islam sampai sekarang. Al- Muwafaqa>t diterbitkan pertama kai di Tunisia 1302 H/1884 M diedit oleh S}a>lih} al-Qaji, Ali Asy-Sanufi, dan Ahmad al-Wartatani. Kemudian buku ini dicetak ulang pada tahun 127 H/1909 M. buku ini juga diedit oleh Hasanain Muhammad Makhluf dan juga oleh Abdullah Darraz (w. 1351 H/1932 M), yang sering dijadkan rujukan. Adapun al- I’tis}a>m diterbitkan pertama kali oleh penerbit Mustafa Muhammad di Mesir.  Pada tahun 1915 buku ini diterbitkan kembali setelah diedit oleh Muhammad Rashid Rida.[14]

Pada masa sebelumnya, ushul fiqh lebih banyak menguraikan aspek bahasa dengan kaidahnya dan sedikit sekali membahas persoalan maqa>s}id al-Shari>’ah (tujuan pensyariatan). Ushul Fiqh hampir tidak mengalami perkembangan yang signifikan, yang ada paling sekedar komentar atau sedikit penambahan–penambahan yang tidak begitu essensial, dan berkutat pada masalah-masalah yang sudah ada. Barulah ketika Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al-Gharnat}i yang lebih dikenal dengan al-Shatibi (730 H) membuat formulasi baru dalam ilmu ushul fiqh yang tertuang dalam karyanya al-Muwa>faqa>tsebuah buku yang selalu menjadi rujukan utama oleh orang-orang setelahnya.

Di tangan al-Shatibi, pembahasan ushul fiqh lebih konprehensif, dan tajam mengeni aspek maqasid al-shariah. Sekalipun ia berbicara tentang aspek bahasa, pembahasan dan analisisnya senantiasa terkait dengan persoalan maqasih al-Shari>’ah. Menurutnya, setiap agama yang diturunkan Allah swt senantiasa bertujuan untuk kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat. Kemaslahatan dunia itu sendiri bertujuan untuk kemaslahatan akhirat. Oleh sebab itu setiap mukalaf dalam setiap perbuatannya harus mempertimbangkan maslahat dan madharat, serta senantiasa mengambil yang maslahat.

Al-Shatibi melihat ada yang kurang dalam metodologi yang dipakai ulama-ulama terdahulu. Atau lebih tepatnya formulasi ushul fiqh yang ada saat itu kurang memberikan jawaban pada problematika yang dihadapi umat, karenanya dianggap perlu memformat ulang kerangka ushul fiqh.

Proyek besar al-Shatibi ini perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi bukan hanya karena ia telah menjembatani  dan mencari titik temu dari dua teori yang berbeda; Malikiyah dan Hanafiyah, tetapi lebih dari itu ia telah memberikan ‘roh’ terhadap ushul fiqh yang selama ini tampak kering dan gersang. Roh dari syariat yang selama ini tidak mendapatkan concern yang tinggi dari pendahulunya, yaitu masalah maqa>s}id shari’ah.

Dalam al-Muwa>faqa>t, al-Shatibi mencoba memformat ulang ushul fiqh yang selama ini terkesan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan. Pembahasan maqa>s}id tidak lagi menjadi pembahasan sekunder, tapi Shatibi memberikan porsi yang cukup untuk pembahasan ini. Selain itu manhaj yang dipakai Shatibi berbeda dengan pendahulunya, ia ingin menjadikan ilmu ini sebagai ilmu burhani, ilmu yang berlandaskan pada dalil qot}’i. Dalam muqadimahnya ia menyebutkan bahwa us}ul fiqh dalam agama adalah pasti/ qot}’iyah bukan z}onniyah.[15] Karenanya Abid Jabiri menganggap bahwa apa yang dilakukan Shatibi adalah dalam rangka Ta’s}i>l al-Us}u>l Shari>’atmenetapkan pokok-pokok syariat- membuat ushul fiqh baru.[16]

Al-Muwa>faqa>t  adalah usaha merekonstruksi paradigma berfikir dalam istinbat hukum yang berdasarkan pada maqa>s}id shari’ah dari yang sebelumnya –semenjak Syafi’i- bersandarkan pada “investasi teks”, pencarian ‘illat dan qiyas. Meski pada dasarnya kedua teori ini berangkat dari starting point yang sama, bahwa hukum-hukum syariat yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, akan tetapi bukan hukum serampangan yang tidak berdasarkan pada logika, produk hukum yang bisa dirasionalkan dan mengandung hikmah.

Karena Syar’i tidak menjelaskan segi rasionalitas dan hikmah pada sejumlah besar hukum –misalnya Tuhan tidak menjelaskan sebab pengharaman minum arak, sebab musabab haramnya zina- dan bahwa hukum-hukum yang termaktub dalam Qur’an dan Hadits sangat terbatas untuk menampung semua permasalahan yang terus berkembang, maka seorang mujtahid dituntut untuk membuat standar rasionalisasi agar kasus-kasus baru bisa terakomodir. Disinilah perbedaan dua teori diatas;

Teori yang bersandarkan pada qiyas, ta’lil dan  teks. Teori ini mencari ‘illat dari hukum yang ada dengan asumsi bahwa Tuhan menetapkan illat tersebut dalam mengeluarkan sebuah hukum, kemudian menetapkan hukum yang sama pada setiap kasus yang mempunyai illat yang sejenis. Contoh seperti pengharaman arak. Terdapat nash yang menyebutkan secara s}>orih} bahwa arak itu haram, tetapi tidak disebutkan illat pengharamannya. Maka ditetapkanlah illat yang dijadikan standar munculnya hukum diatas, yaitu “memabukkan” (memabukkan bisa merusak fungsi otak dan menggugurkan takli>f). Kemudian hukum yang sama (haram) diterapkan pada perasan anggur/nabidz dan minuman sejenis yang mengandung alkohol karena illat yang sama, yaitu: iska>r  (memabukkan).

Inilah yang biasa disebut dengan teori qiyas. Teori ini sederhana dan mudah untuk diterapkan, tetapi itu hanya bisa diterapkan pada hal-hal yang sejenis, arak dan nabidz misalnya. Tetapi ketika dihadapkan pada persoalan yang tidak sejenis dengan yang ada, maka akan sulit menerapkan teori di atas, dan pencarian illat terkesan dipaksakan. Disamping kadang teori ini sering terbelenggu oleh teks. ketika ada teks yang mengharamkan khamr, teori qiyas akan membawa seorang mujtahid untuk menentukan makna teks itu sendiri pada saat kemunculannya, lalu bentuk larangan dengan menggunakan ijtanibu<”, apakah mengikat (mulzim) atau tidak. Belum lagi persoalan bagaimana membedakan apakah satu lafadz dimaksudkan untuk satu kasus tertentu dan tidak melebar ke kasus yang lainnya ataukah lafadz tersebut dimaksudkan keumumannya. Dan tentu untuk membedakannya kembali kepada z}ann. Karenanya semua produk fiqh yang dihasilkan dengan menggunakan teori ini sifatnya z}anni.[17] 

Teori yang menjadikan maqa>s}id sebagai titik tolak. Teori ini tentu saja lebih luwes dan fleksibel, lintas ruang dan waktu. Mengingat tujuan awal dari syariat adalah untuk kemaslahatan manusia, maka mempertimbangkan maslahat  dijadikan dasar dalam rasionalisasi hukumdan sekaligus sebagai dasar bagi point-point berikutnya.

Terkait dengan tema pokok dari pemikiran besar al-Shatibi yang terkandung dalam dua bukunya, yaitu persoalan maslahat, ia membagi kategori ijtihad menjadi dua bentuk, yakni ijtihad istinbati dan ijtihad tatbiqi.

Ijtihad istinbati adalah usaha seorang mujathid mengerahkan kemampuan nalarnya untuk memahami kandungan ayat atau hadith Nabi saw sehingga ia dengan tepat dapat menangkap ide yang terkandung dalam teks tersebut. Dalam ijtihad yang pertama ini, mujtahid belum dihadapkan kepada obyek hukum. Setelah mujtahid berhasil menangkap ide yang dikandung teks wahyu atau hadith, ia akan berhadapan dengan persoalan bagaimana menerapkan ide/hukum itu kepada obyek hukum. Jika hukum yang dihasilkan seorang mujathid itu dengan mudah diterapkan pada obyek hukum, tidak muncul persoalan. Persoalan akan muncul jika ide hukum yang dihasilkan melalui ijtihad tersebut, ketika diterapkan ternyata menimbulkan persoalan hukum lainnya, yang kadang dapat lebih berat dari sekedar menerapkan ide hukum hasil ijtihad tersebut.

Misalnya dalam surat al-Talaq (65) ayat 2, Allah swt berfirman yang artinya: “Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu (dalam kasus perceraian) dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian iu karena Allah”. Dari ayat ini seorang mujathid mengetahui bahwa saksi tersebut harus orang adil. Sifat adil inilah yang akan diterapkan pada seseorang. Dalam kenyataannya sifat adil tidak dapat diletakkan kepada setiap orang, karena kualitas keadilan seseorang amat relatif. Oleh sebab itu ide adil yang dikandung ayat tersebut tidak bisa sejalan tatkala diterapkan dalam kenyataan.

Dari kasus di atas, menunjukkan bahwa tidak selamanya hasil ijtihad yang diperoleh seorang mujtahid dalam penerapannya harus diberlakukan sebagaimana adanya, karena dalam relitasnya akan ditemui kendala lain yang mesti dipertimbangkan dalam menerapkan hukum. Dalam kaitan inilah al-Shatibi secara panjang lebar membahas ijtihad tatbiqi.

Ijtihad tat}biqi mengandung pengertian bahwa dalam penerapan ide hukum, seorang mujathid harus melakukan ijtihad lain yang juga tidak kalah pentingnya dengan ijtihad istinbati yang disebutkan di atas. Dalam ijtihad tat}biqi persoalan  maqasid al-Shari>’ah menjadi acuan utama dalam menerapkan hukum. Dalam ijtihad tat}biqi ini, mujtahid dituntut memperhatikan kondisi sosio-kultural dan politik dalam menerapkan suatu hukum. Di sinilah kelebihan al-Shatibi dibanding ulama ushul fiqh lainnya, sehingga ada ungkapan bahwa jika imam al-Syafi’i telah meletakkan dasar yang kokoh bagi ushul fiqh, maka Imam al-Shatibi adalah pengembangnya.[18]

Kategori Maqa>s}id al-Shari>’ah

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pemikiran besar al-Shatibi adalah tentang konsep maqa>s}id al-shari>’ah dalam disiplin ushul fiqh. Menurut al-Shatibi, bahwa tuntutan shariat atas makhluk berorientasi kepada maqashid (tujuan shariat). Adapun pembagian maqa>s}id al-shari>’ah ada tiga kategori, yakni maqa>s}idz}aruriyat, hajiyyat, dan tah}siniyyat.

Yang dimaksud dengan maqa>s}id yang sifatnya z}aruriyat yakni, kemaslahatan dunia dan akhirat tidak akan tercipta tanpa memenuhi unsur-unsur z}aruriyat.[19] Bisa diistilahkan dengan kebutuhan primer. Adapun unsur dharuriyat adalah, hifdhu al-Din, hifdhu al-Nafs, hifdhu al-Nasl, hifdhu al-Ma>ldan hifdhu al-‘Aql.[20]

Kategori maqashid yang bersifat hajiyyat yakni kebutuhan sekunder, kebutuhan yang bersifat memberikan kemudahan kepada makhluk serta menghilangkan kesulitan. Dan jika tidak dipenuhi maka berakibat terjerat kepada dosa dan kesulitan. Namun tidak menyebabkan kerusakan yang mengganggu kemaslahatan yang bersifat umum.

Adapun maqashid yang besifat tah}siniyyat, adalah kebutuhan yang bersifat tersier, yakni kebutuhan yang hanya untuk memenuhi kesempurnaan hidup. Jika tidak dipenuhi tidak mengakkibatkan kerusakan maupun kesulitan[21]

Penutup

Imam al-Shatibi muncul pada masa pergolakan sosial dan politik umat Islam –pada masa keruntuhan Islam di Spanyol-, namun uniknya di masa ini banyak muncul para ilmuwan-ilmuwan besar Islam. Hal ini menandakan bahwa tradisi intelektual dalam dunia Islam –khususnya di Spanyol- masih menjadi sesuatu yang diunggulkan meskipun dalam suasana perebutan kekuasaan –bahkan mendekati masa kemunduran Islam-. Pada zamannya, al-Shatibi dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh pemikir besar Islam seperti Ibn Khaldun, Ibn Taimiyah, Ibn Rusyd dan lain sebagainya.

Meskipun al-Shatibi menguasai berbagai disiplin keilmuan, namun yang paling menonjol dan orisinal dari pemikirannya yakni di bidang ushul fiqh. Al-Shatibi mampu menciptakan rumusan ushul fiqh baru. Jika Imam Syafi’i mampu meletakkan pondasi ilmu ushul fiqh secara sistematis, namun nuansa yang ditawarkan Imam Syafi’i masih bersifat tekstual. Maka ilmu ushul fiqh ditangan al-Shatibi –meskipun sama-sama berangkat dari teks- mampu berdialog dengan realita sosial. Konsep al-Shatibi ini dikenal dengan maqas}id al-Shari>’ah. Adapun sistem ijtihad yang dikenalkan al-Shatibi yaitu ijtihad istinbat}i dan tat}biqi.

Dari data-data yang diperoleh, penulis mempunyai “tanda tanya besar”. Sekaliber al-Shatibi, mengapa pemikiran yang menonjol hanya ilmu ushul fiqhnya saja? Dan hal itu hanya bisa dilihat dari dua buku  –al-I’tis}om dan al-Muwafaqa>t-?. Hal ini tidak lain karena hanya beberapa karya al-Shatibi yang baru ditemukan. Tidak menutup kemungkinan masih banyak karya al-Shatibi lain yang masih bisa dicari dan diteliti lagi. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan kontribusi untuk penelitian pemikiran al-Shatibi lebih lanjut. Semoga bermanfaat bagi generasi saat ini dan mendatang. Amin.

Daftar Pustaka

al-Ajfan, Abu. Min Atha>r Fuqaha al-Andalus: Fatawa al-Imam al-Shatibi. Tunis: Mat}’ah al-Kawa>kib. 1995.

Armando, Nina M, dkk. Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.  2005.

Bakri, Asafri Jaya. Konsep Maqa>s}id al-Shari>’ah Menurut al-Shatibi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 1996.

Hitti, Phillip K. History Of  The Arabs. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. 2010.

Jabiri, Moh Abid. Binya>t al-’Aql al-‘Araby. Dar Bayd}o’: Dar  Nas}r al-Maghribiyah. 2000.

Jabiri. Al-Di>n wa al-Daulah wa tat}biq al-Shari’ah. Beirut: Markaz Dirasah al-Wah}dah al-Arabiyah. 1996.

al-Maliki, Abu Ishaq al-Shatibi Ibrahim Ibn Musa al-Lah}mi al-Gharnati. Al-Muwafaqa>t Fi Us}uli al-Shari>’ah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2004.

al-Maliki, Abu Ishaq al-Shatibi Ibrahim Ibn Musa al-Lah}mi al-Gharnati. Al-I’tis}a>m, terj. Shalahuddin Shabki. Jakarta: Pustaka Azzam. 2006.

Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press.  1985.

Soekamto, Sorjono.  Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Jakarta: Rajawali Pers. 1980.

Syar’i, Makmun. Akar Sejarah Pemikiran al-Shatibi Tentang Rukhsah dalam Islamica Jurnal Study Keislaman, volume 6 nomer 1. Surabaya: Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel. 2011.

http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Ishaq_al-Shatibi


[1] Kata pengantar oleh Nasaruddin Umar dalam Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari’ah Menurut Al-Syatibi,(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996), V

[3] Makmun Syar’i, Akar Sejarah Pemikiran Al-Shatibi Tentang Rukhsah, dalam Islamica Jurnal Study Keislaman, volume 6 nomer 1,(Surabaya: Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, 2011), 97

[4] Ibid 97, namun banyak penulis sejarah menduga bahwa Al-Shatibi berada di Granada pada masa pemerintahan Ismail Ibn Faraj yang berkuasa tahun 713 H, Muhammad Ibn Ismail 724 H, Abu Hajjaj Ibn Yusuf Ibn Ismail berkuasa 734 H dan Muhammad al-Ghani bi Allah Ibn Abi Hajjaj Yusuf tahun 755 H. liat di Dalam Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari’ah Menurut Al-Syatibi, 17

[5] Phillip K. Hitti, History Of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010), 716

[6] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), 62

[7] Makmun Syar’i, Akar Sejarah Pemikiran Al-Shatibi Tentang Rukhsah, dalam Islamica Jurnal Study Keislaman, volume 6 nomer 1,(Surabaya: Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, 2011), 99

[8] Abu al-Ajfan, Min Atsar Fuqaha al-Andalus : Fatawa al-Imam al-Syatibi (Tunis: Matha’ah al-Kawakib, 1995), 28

[9] Asafri Jaya Bakri, Konsep Maqashid Syari’ah Menurut Al-Syatibi,17-20

[10] Abu al-Ajfan, Min Atsar Fuqaha al-Andalus : Fatawa al-Imam al-Syatibi, 36

[11] Nina m. Armando, dkk, ensiklopedi islam, (Jakarta: Ichtiar baru van hoeve, 2005), 303

[12] Abu al-Ajfan, Min Atsar Fuqaha al-Andalus : Fatawa al-Imam al-Syatibi, 41

[13] Nina m. Armando, 303. liat juga di Imam Asy-Syatibi, Al-I’tisham, terj. Shalahuddin Shabki,(Jakarta: Pustaka Azzam, 2006), XX

[14] Ibid, 303

[15] Abu Ishaq al-Shatibi Ibrahim Ibn Musa al-Lakhmi al-Gharnati al-Maliki, Al-Muwafaqat Fi Ushuli al-Shariah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004), 18

[16]Moh Abid Jabiri , Binya>t al-’Aql al-‘Araby, (Dar Bayd}o’: Dar  Nashr al-Magribiyah, 2000), 519.

[17]Jabiri, al-Di>n wa al-Daulah wa tat}biq al-Shari’ah (Beirut: Markaz Dirasah al-Wah}dah al-Arabiyah, 1996) cet ke I, 170-173.

[18] Nina m. Armando, dkk, Ensiklopedi Islam, 304

[19] Abu Ishaq al-Shatibi Ibrahim Ibn Musa al-Lah}mi al-Gharnati al-Maliki, Al-Muwafaqa>t Fi Us}u>li al-Shari>’ah, 221

[20] Ibid, 222

[21] Ibid, 222-223


[1] Sorjono Soekamto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum (Jakarta: Rajawali Pers, 1980), 115

0 Responses to “PEMIKIRAN IMAM AL-SHATIBI”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




|

|


%d bloggers like this: